Senin, 17 Maret 2008

Budaya Menulis Di PTS



Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebagai mitra pemerintah dalam upaya ikut serta mencerdaskan bangsa, dituntut untuk terus mampu meningkatkan kualitasnya. Sebagai sebuah lembaga formal yang bertugas untuk mengelola Sumber Daya Manusia (SDM), sudah seharusnya dapat menghasilkan output / luaran dalam hal ini sarjana yang berkualitas. Dalam proses transfer knowlagde (ilmu pengetahuan dan teknologi), interaksi antara dosen dan mahasiswa bisa menjadi cerminan kualitas sebuah perguruan tinggi yang tertuang dalam budaya akademik mereka. Budaya akademik (culture academic) salah satunya adalah dapat menghasilkan karya-karya ilmiah lewat sebuah tulisan. Namun kenyataan justru sebaliknya, kehidupan akademik di kampus masih sangat gersang dari karya-karya dosen lewat tulisan terpublikasi, baik dari hasil riset maupun opini-opini yang mereka tulis.

Di Indonesia terdapat lebih dari 1000 Perguruan Tinggi, 90 %-nya adalah perguruan tinggi swasta (PTS). PT ini telah menghasilkan alumni jutaan lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Memang dari segi kuantitas menunjukkan peningkatan yang signifikan, tetapi dari segi kualitas belum menunjukkan peningkatan yang berarti, karena masih rendahnya budaya menulis di lingkungan PTS.. Di Jawa Tengah saja terdapat lebih dari 215 PTS, mulai dari Akademi, Sekolah Tinggi hingga PT sendiri. tetapi hasil tulisan atau karya dari para dosen yang dipublikasikan ke media baik lewat majalah ilmiah, jurnal maupun surat kabar masih bisa dihitung dengan jari tidak sebanding dengan jumlah PT yang ada.

Paling banter tulisan dari hasil penelitian mereka, hanya masuk di perpustakaan dalam bentuk buku laporan semata, dan jumlahnya-pun tidak banyak. Tak jarang dari tulisan laporan tersebut pada akhirnya menjadi tumpukan kertas tua yang disimpan di perpustakaan, karena tidak pernah disentuh apalagi dibaca oleh orang lain. Kondisi ini sebenarnya banyak dirasakan oleh banyak PTS di Jawa Tengah, karena masih sangat sulit untuk memacu para dosen agar giat menulis.

Padahal menulis merupakan hal yang penting dan sangat erat sekali dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mirabeau dan Renan sangat menyakini bahwa penemuan tulisan telah membentuk sekaligus merubah peradaban. Sebagaimana pemeo “ as laguage distinguishes man for animal. so writing distinguishes civilized man from barbarian “ (bahasa membedakan manusia dari binatang, begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab). Artinya tulisan hanya terdapat dalam peradaban dan peradaban tidaklah ada tampa tulisan.

Dengan demikian kegiatan menulis merupakan budaya kaum intelektual dan orang terdidik yang sudah seharusnya disandang para dosen. Menulis merupakan bagian dari budaya akademik (culture academic) yang perlu dikembangkan dalam kehidupan di dalam kampus. Tetapi sungguh ironis sekali bahwa minat dan masih rendahnya motivasi untuk menulis dikalangan dosen di lingkungan PTS, menjadi penyebab semakin rendahnya kualitas PTS dibandingkan dengan PTN. Meski demikian, ada juga PTS yang memiliki reputasi cukup baik di dunia tulis-menulis, namun tetap saja jumlahnya masih terbatas.

Penyebab
Mengapa Dosen PTS cenderung lebih sulit dan enggan menulis untuk mempublikasikan hasil penelitian/tulisan ilmiah dan opini-opininya ?.
Ada beberapa factor sekaligus indicator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur ketidak-mampuan para dosen PTS dalam mengembangkan tulisannya, antara lain :
Pertama : masih banyak dosen PTS karena tuntutan urusan perut, lebih suka mengejar materi dengan sibuk mengajar saja, dengan jumlah jam kuliah yang kadang diluar batas kewajaran seorang dosen (lebih dari 9 SKS/minggu). Mengingat masih minimnya pendapatan / gaji dosen swasta tiap bulannya, banyak pula yang menjadi dosen terbang (mengajar di banyak tempat) untuk mengumpulkan dan memenuhi pundi-pundinya. Jelas dengan kondisi seperti di atas akan menguras tenaga dan energi, sehingga waktu untuk menulis menjadi tidak ada.

Kedua : Banyak dosen yang jarang dan tidak memanfaatkan perpustakaan secara optimal. Mereka yang lebih suka menghabiskan waktunya diluar jam kuliah untuk ngobrol sesama teman kerja atau bermain game di saat jam kantor. Padahal perpustakaan sebenarnya bisa menjadi sumber ilmu sekaligus gudangnya buku-buku dan dapat dijadikan sebagai inspirator untuk menghasilkan sebuah tulisan. Lebih parah lagi banyak pula dosen yang tidak pernah mau membaca referensi lain, selain buku yang diajarkan pada mahasiswanya. Padahal bisa jadi buku tersebut sudah tidak relevan lagi dan tidak sesuai dengan kondisi terkini alias tidak up to date serta tidak mampu menjawab permasalahan yang ada dewasa ini.

Ketiga : Rendahnya produsktifitas dosen dalam berkarya lewat tulisan disebabkan karena lebih suka ngobyek di luar kampus yang justru terkadang jauh dari budaya akademik dan profesinya sebagai seorang pendidik. Misalnya ikut MLM (multi level marketing) produk tertentu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan bidang keahlian dosen bersangkutan atau menjadi pedagan di kampus dengan berjualan barang-barang tertentu. Mending jika seorang dosen menjadi tenaga ahli di sebuah konsultan perencanaan yang cukup banyak macamnya, ilmu teoritisnya justru semakin terasah, karena semakin banyak pengalaman dilapangan.

Keempat : Tidak tersedianya media yang dapat menampung hasil karya tulisan di kampus semakin menghambat semangat untuk menuangkan ide-ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan, karena belum ada lembaga khusus seperti Redaksi Majalah Kampus, yang mengurusi atau menampung tulisan para dosen untuk dibuat menjadi sebuah artikle ilmiah yang bisa di baca banyak orang.

Merangsang Menulis
Jika melihat kondisi di atas, maka sangat diperlukan kiat-kiat atau teknik untuk merangsang para dosen agar mau aktif menulis di kampus. Adapun startegi yang dapat dilakukan untuk memotivasi para dosen tersebut diantaranya :
Pertama : Institusi Perguruan Tinggi Swasta harus melembagakan secara formal, badan atau lembaga yang nantinya mengurusi seluk-beluk hasil tulisan para dosen. Pimpinan PT juga harus memotivasi lembaga yang sudah terbentuk tersebut dan memberikan stimulan dana yang cukup untuk mengembangkan penerbitan majalah atau jurnal di kampus yang terakriditasi, bukan sebaliknya setengah-setengah saja, maksudnya memberi dorongan tampa memberi stimulan dana operasional yang memadai.

Kedua : Perlu adanya Reward/penghargaan khusus bagi para dosen yang sering menulis baik di media yang ada di kampus atau diluar kampusnya. Penghargaan ini meski tidak berwujud nominal uang, akan bisa memacu semangat para dosen untuk terus berkarya dan berkarya. Karena Pimpinan Perguruan Tinggi lebih responsif dalam memberikan perhatian kepada dosen yang sering menulis. Coba dibanyangkan, jika dosen yang aktif menulis disamakan rewardnya dengan dosen yang tidak mau menulis sama sekali, bisa jadi semangat untuk menulis menjadi semakin pudar dan padam serta para dosen kehilangan gairah untuk menulis.

Ketiga : Institusi perlu memberikan batasan jam mengajar kuliah bagi para dosen agar waktunya tidak habis untuk mengajar saja. Dengan semakin banyak waktu luang diluar jam kuliah maka seorang dosen akan bisa mengembangkan kemampuan menulisnya, minimal menuangkan ide dan gagasan untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan ilmiah yang dapat di publikasikan di majalah ilmiah, jurnal ataupun surat kabar. Hal ini harus diimbangi dengan pemberian penghasilan yang pantas bagi para dosen agar tidak mencari tambahan mengajar di luar kampus.

Ketiga strategi ini semestinya bisa merubah paradigma dan cara pikir para dosen yang malas menulis dan hanya sibuk untuk mengajar di kelas-kelas saja. Jika dengan ketiga cara ini tidak berhasil juga, maka dosen tersebut perlu dipertimbangkan kembali keberadaannya dan tidak perlu dipertahankan, karena sama sekali tidak membawa manfaat bagi kemajuan perguruan tinggi setempat. Nah, jika masih ada dosen yang enggan menulis, kapan Perguruan Tinggi tersebut akan bertambah maju. Semoga saja...

Tidak ada komentar: